treninetwork.com

Rabu, 18 Desember 2013

Perjuangan Hidup 16 Cucu Raja Aceh Terakhir

RAJA Aceh terakhir, Sultan ‘Alaidin Muhammad Daud Syah, tahun 1904 dibuang Belanda ke Jakarta. Raja terakhir ini punya seorang anak sulung, calon Putera Mahkota Kerajaan Aceh Raya, Tuanku Raja Ibrahim. Salah satu anggota kerajaan yang masih hidup dan berdomisili di Banda Aceh adalah Tuanku Raja Yusuf dan pernah diundang khusus oleh Mahathir Muhammad (Mantan Perdana Menteri Malaysia).

Tuanku Raja Ibrahim (Tengah)
Tuanku Raja Ibrahim (Tengah)
Di Sengaja maupun tidak, Pemerintah Aceh seakan-akan Membutakan Mata bahkan Hati ditengah gemerlap pembangunan bumi Serambi Mekah dengan Trilyunan Uang yang dikucurkan pemerintah pusat baik dari dari dana alokasi umum, dana alokasi khusus juga dana bagi hasil dan sejumlah dana-dana yang lainnya.

Demikian juga pemerintah Propinsi Aceh yang sibuk mengalokasikan dana yang tidak kunjung bisa dihabiskan setiap akhir tahun Anggaran serta kesibukan anggota dewan membahas qanun ini dan itu tetapi….ada persoalan sejarah yang masih dimarginal baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah Aceh yang juga bangsa Aceh.
Belum ada satupun dari lembaga pemerintah baik yudikatif maupun legislatif yang membicara pahit getirnya hidup keturunan Sultan Aceh yang terakhir, sangat miris dan sungguh memilukan hati.
Saat ini keturunan Tuanku Raja Ibrahim hampir tidak bisa hidup layak dan beberapa hidup dibawah garis kemiskinan bahkan memenuhi kebutuhan yang mendasar untuk sehari-hari saja sangat sulit, padahal dulu orang tua mereka berjuang demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat aceh serta hidup diluar istana demi bangsa Aceh.
Tuanku-Raja-Ibrahim
Tuanku-Raja-Ibrahim
Beginikah Bangsa Aceh sekarang? dengan mudah membunuh sejarah, tidak menghargai apa itu sejarah?, kenapa di daerah lain seperti Jogyakarta mereka bisa menghargai keraton bahkan kesultanan masih eksis sampai sekarang dan didanai oleh pemerintah untuk segala sesuatu keperluan dan biaya operasional kesultanan.
Jika kita melihat lebih jauh kita bisa melihat Negara tetangga kita Malaysia, Brunei dan juga lebih jauh lagi Inggris dengan Ratu Elizabetnya mereka lebih maju dan menghargai sejarah dengan mempertahankan kerajaan yang ada dan terus didukung dengan dana.
Beginilah gambaran getir pahitnya hidup anak dari Tuanku Raja Ibrahim atau cucu-cucu dari Keturunan Sultan Iskandar Muda yang sangat kita Bangga-Banggakan selama ini :
1. Teungku Putroe Safiatuddin Nur Alam
Teungku Putroe Safiatuddin Nur Alam
Teungku Putroe Safiatuddin Nur Alam
Beliau adalah Putri sulung yang banyak tahu tentang sejarah Tuanku Raja Ibrahim, kini berstatus seorang Janda. Saat ini beliau tinggal bersama anak dan menantunya di Mataram, Lombok, NTB.
Sebelumnya beliau tinggal dirumah panggung kayu bekas yang lapuk bongkaran rumah orang lain, ketika tsunami rumah tersebut miring dan hampir roboh. Jika hujan perkarangan rumahnya banjir dan tergenang air, sangat sangat tidak layak.
Tidak ada perhatian dari pihak–pihak yang mendata untuk pembangunan rumah bantuan tsunami mau tidak mau dia tetap tinggal dirumah tersebut dengan beberapa cucunya, tetapi karena sakit-sakitan dan kondisi rumah yang tidak layak akhirnya seorang anaknya mengajak tinggal bersamanya untuk sementara waktu menunggu beliau sehat kembali. Saat ini beliau hidup dari sedikit bantuan anak-anaknya.
2. Teungku Putroe Kasmi Nur Alam
Teungku Putroe Kasmi Nur Alam
Teungku Putroe Kasmi Nur Alam
Berstatus Janda dan telah meninggal beberapa tahun lalu dan selama hidup tidak pernah mempunyai rumah dan hidup bersama dirumah menantunya. Beliau orang yang sangat setia dan sangat mudah kasihan kepada orang lain meskipun uang tidak cukup untuk diri sendiri tetapi jika ada orang kesusahan minta tolong pasti dibantu uang dan tenaga (mungkin ini menurun dari prilaku Sultan).
Jadi meskipun hidup bersama anaknya beliau selalu bisa mandiri untuk memenuhi kebutuhannya seperti ketika ada orang minta tolong memijat tanpa pernah meminta dengan tarif tertentu. Menurut ketererangan dari kakak beliau Teungku Putroe Shafiatuddin Cahya Nur Alam, beliaulah yang wajahnya sangat mirip dengan wajah ayahanda beliau Tuanku Raja Ibrahim.
3. Tuanku Raja Zainal Abidin
  • (tidak di ketahui)…..?
4. Teungku Putroe Rangganis
Berstatus sebagai janda sekarang menetap di Tangse, Sejak suami beliau meninggal, beliau tinggal bersama anak dan cucu-cucunya. Menurut keterangan cucu beliau, ketika kecil beliau paling senang menyulam, beliau juga gemar membaca. Kehidupan sehari-hari sebagai bertani dan bantuan biaya dari anak-anaknya.
5. Tuanku Raja Ramaluddin
Telah meninggal beberapa hari setelah tsunami, almarhum bekerja sebagai anggota TNI bagian medis dengan pangkat terakhir sersan. Perbuatan terpuji beliau yang terakhir karena mengerti dengan masalah medis dengan segala kemampuannya merawat orang-orang bangsa Aceh dalam keadaan luka saat tsunami disekitar beliau, tetapi yang sangat mengharukan adalah beliau langsung meninggal setelah merawat korban tsunami, karena kelelahan berhubung usia juga yang sudah lanjut.
6. Teungku Putroe Sariawan
Teungku Putroe Sariawan berstatus sebagai janda sekarang beliau hidup dari membantu anaknya disebuah TK di Banda Aceh
7. Tuanku Raja Mansur
Beliau meninggal sebelum Tsunami, dialah yang banyak mewarisi sifat Sultan Aceh terakhir seperti beliau dengan susah payah mendirikan yayasan Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah di Kampung Jawa untuk kegiatan pengajian anak-anak yatim disekitar situ dan memperjuangkan dana untuk renovasi rumah putih adat Aceh peninggalan keluarga Sultan yang akhirnya direnovasi oleh pemerintah atas bantuan Wakil Gubenur pada saat itu yaitu Bapak Azwar Abu Bakar.
Pada masa konflik karena sifat bijaksananya beliau selalu melakukan mediasi antara GAM dan TNI POLRI dan pemerintah secara informal. Beliau juga sering diajak pemerintah untuk berbicara sosialisasi tentang program pemerintah di desa-desa, serta seorang yang selalu melakukan silaturahmi antara setiap rumah keluarga besar Sultan Aceh.
8. Tuanku Raja Djohan
Telah meninggal baru-baru ini tepatnya pada tanggal 27 Januari 2010 karena ditabrak oleh dump truck Hercules yang membawa material proyek daerah lameu ketika baru pulang dari berobat dipukesmas. Almarhum adalah seorang yang tuna rungu karena sesuatu hal pada masa kecil tapi kelebihannya dapat membaca dan sangat disegani dikampungnya yaitu kampung langga Aceh Pidie.
Kehidupan sehari-hari beliau dalam memenuhi kebutuhan hidupnya adalah dengan bertani dan memberi doa/rajah untuk obat padi, masyarakat desa masih yakin bahwa beliau punya kelebihan sebagai Keturunan Tuanku. Sampai hari ini belum ada perhatian dari pemda untuk sekedar melayat keturunan Sultan Aceh yang meninggal, beliau meninggalkan seorang istri dan 2 anak perempuan.
9. Tuanku Raja Iskandar
  • (Tidak Di Ketahui…?)
10. Teungku Putroe Sukmawati
Teungku Putroe Sukmawati
Teungku Putroe Sukmawati
Berstatus sebagai seorang Janda yang hanya mengandalkan pensiun dari almarhum suaminya yang tidak seberapa dan harus berusaha menghidupi serta menyekolahkan keempat anaknya. Saat ini beliau tinggal di Banda Aceh, Kehidupan beliau sepeninggal suami sangat sulit, tetapi beliau juga mewarisi sifat dari keturunan sultan yaitu tidak pernah terlihat sedih dan selalu ramah pada setiap orang.
Sehingga walau susah setiap orang yang datang kerumah selalu diberi minum kopi dan makan dengan tidak memandang kasta, karena keramahan beliau orang-orang yang datang baik itu tuna runggu, tidak waras namun ajaib yang tidak waras tersebut bisa waras dirumahnya. Rezeki yang datang kepada beliau juga tidak terduga dari orang-orang sekitar dan yang datang, sehingga dalam keadaan kesusahan ada saja yang datang membantu.
11. Tuanku Raja Syamsuddin
Kehidupannya sangat memprihatinkan, tinggal dengan istri beliau di Lhokseumawe untuk memenuhi kehidupan sehari-hari beliau adalah dengan bertani dan membawa becak dayung dan tidak mempunyai rumah sendiri. Tubuh beliau terlihat kurus karena bekerja sangat keras dan sering sakit-sakitan dan saat beliau sakit istrinya kesana kemari berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka tapi mereka tidak pernah menyerah dan meminta bantuan kepada pemerintah.
12. Tuanku Raja Muhammad Daud
Beliau juga tinggal di Lhokseumawe kehidupan beliau juga sangat sulit, untuk kehidupan sehari hanya mengandalkan dari hasil narik becak mesin dan langganan bulanan untuk mengantar jemput anak-anak tetangga ke sekolah tetapi beliau tidak mau mengeluh meskipun beliau cucu dari Sultan Aceh.
13. Tuanku Raja Yusuf
Beberapa waktu yang lalu beliau di undang oleh kerabat kesultanan Pahang malaysia, yakni Tunku Hajjah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah. Dalam pertemuan tersebut, ia menyatakan bahwa beliau telah lama menjadi rakyat biasa, bahkan sejak beliau lahir. Ia juga tidak mau mengaku-gaku sebagai keturunan sultan demi mendapatkan kemegahan dan ketenaran.
Dalam pertemuan ini juga dihadiri keluarga dari pihak Kerajaan Pahang lainnya dan kelurga dari Tuanku Raja Yusuf, serta didampingi oleh Tuanku Maimun serta Tuanku Aswan, cucu dari Teuku Hasyim Banta Muda yang pernah menjadi Wali Nanggroe sewaktu Sultan Muhammad Daud Syah masih kecil. Beliau satu-satunya anggota keluarga sultan yang lumayan mapan dan berstatus sebagai pegawai negeri.
14. Tuanku Raja Sulaiman
Beliau tinggal di lampoh ranup Lamlo Aceh Pidie, untuk kehidupan sehari beliau berjualan minyak bensin dan oli, dengan semangat pantang menyerah beliau dengan usaha tersebut mampu menghidupi anak dan istrinya.
15. Teungku Putroe Gambar Gading
Berstatus sebagai seorang janda tapi beliau sudah menjadi pegawai negeri mengikuti jejak abangnya Twk. Raja Yusuf meskipun susah payah dengan segala keterbatasan untuk mendapat gelar sarjana dulu.
16. Tuanku Raja Ishak Badruzzaman
Beliau juga tinggal di lampoh ranup, Lameue Lamlo Aceh Pidie karena keterbatasan dana saat menjadi mahasiswa beliau akhir meninggalkan bangku universitas dan pergi mengaji di pasantren.
Saat di pesantren beliau mendapat banyak ilmu agama dan juga ketrampilan, salah satunya adalah dibidang perabotan, akhirnya bidang tersebut menjadi dasar pekerjaan beliau sehingga sekarang punya tempat pembuatan perabot di Lamlo.
Beliau selain membuka usaha perabot juga membuka pengajian di atas sebuah balai di komplek rumahnya. Beliau adalah putra paling bungsu dari tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah.
***
Ini seklumit kisah pilu para keturunan Kesultanan Aceh Terakhir yang dilupakan jaman dan bangsa Aceh sendiri. Sangat disayangkan keturunan Tuanku Raja Ibrahim tidak pernah dilibatkan dan kegiatan sosial budaya dan adat istiadat Aceh masa kini, juga dilembaga-lembaga seperti MAA (Majelis Adat Aceh) atau Lembaga Wali Nanggroe yang akan dibentuk nantinya. Padahal kisah dan Adat Istiadat Aceh masih bisa diketahui dari keturunan Sultan Aceh terakhir ini dan akan menjadi asset parawisata bagi pemda di jika pemerintah Aceh bisa menghargai mereka dan membuat suatu tempat atau wadah bagi keluarga Sultan ini.
(dikutip dari situs: http://www.atjehcyber.net)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sertakan pertanyaan, komentar, pendapat, kritik dan saran anda pada kolom komentar dibawah ini. Saya menghargai setiap pesan anda dan berterima kasih kepada anda....
Silahkan tinggalkan pesan anda!